Apa nama kedua kota yang mengalami peristiwa pengeboman pada gambar

Penulis: Dipna Videlia Putsanra
tirto.id - 5 Agu 2021 12:00 WIB

View non-AMP version at tirto.id

Sejarah pengeboman Hiroshima dan Nagasaki 6 dan 9 Agustus 2021, jelang kemerdekaan RI.

tirto.id - Pengeboman Hiroshima dan Nagasaki terjadi pada Agustus 1945, menjelang Proklamasi Kemerdekaan RI pada 17 Agustus. Selain bagi Jepang dan Amerika Serikat (AS), pengeboman dua kota ini juga jadi peristiwa penting bagi Indonesia.

Sebelum pengeboman terjadi, ketegangan antara AS dan Jepang telah meningkat selama beberapa dekade sebelum Perang Dunia II. Jepang menduduki wilayah Cina timur, yang menyebabkan perang antara kedua negara pada 1937.

Advertising

Advertising

Dilansir Evening Standard, AS dan negara-negara Barat lainnya menghentikan ekspor bahan-bahan vital ke Jepang dalam upaya untuk mencegah Jepang melakukan ekspansi lebih lanjut. Jepang melihat ini sebagai tindakan agresif.

Negara-negara tersebut mencoba bernegosiasi agar Jepang mundur dari China dan AS akan mulai mengekspor bahan bakar lagi pada akhir tahun 1941, tetapi tidak ada kesepakatan persyaratan di antara keduanya.

Jepang kemudian melancarkan serangan udara di pangkalan udara AS Pearl Harbor, Hawaii pada 7 Desember 1941, menewaskan 2.403 tentara AS dan melukai 1.178 lainnya.

Serangan itu kemudian dinilai sebagai kejahatan perang karena terjadi tanpa pemberitahuan dan saat pembicaraan damai sedang berlangsung. Kedua negara menyatakan perang satu sama lain tak lama setelah serangan itu.

AS dan Jepang telah berperang selama hampir empat tahun, sejak April 1941. Konflik berdarah dan pertempuran sengit di Pasifik telah merenggut nyawa jutaan orang Jepang dan AS.

Perang di Eropa telah selesai hampir dua bulan sebelumnya, pada Mei 1945, setelah Jerman menyerah tanpa syarat. AS sedang mempersiapkan invasi darat ke Jepang, yang akan sangat sulit diperjuangkan. Setidaknya 500 ribu orang Amerika saja kemungkinan besar akan mati, menurut perkiraan pemerintah AS pada saat itu.

Pada saat yang sama, AS sedang mengembangkan pembuatan bom nuklir sejak akhir 1930-an. Bom sudah siap pada musim panas 1945. Sekutu menyerukan Jepang untuk menyerah pada akhir Juli 1945, mengancam akan terjadi "kehancuran total" jika Jepang tak menyerah.

Karena Jepang tak kunjung mengibarkan bendera putih, pada 6 Agustus 1945, sebuah bom uranium yang dijuluki Little Boy dijatuhkan di Hiroshima. Kota itu hancur, puluhan ribu orang tewas seketika dan sebanyak 146.000 orang tewas tiga bulan setelah serangan.

Banyak korban yang dilaporkan menderita kanker dan bentuk penyakit lain yang disebabkan oleh radiasi bom. Sejumlah besar bangunan hancur total atau rusak. Pihak berwenang Jepang menyadari serangan lain bisa terjadi setelah Hiroshima, tetapi memutuskan untuk bertahan daripada menyerah.

Serangan berikutnya, bom plutonium berjuluk Fat Man, jatuh di Nagasaki pada 9 Agustus. Sebanyak 80.000 orang tewas. Di kedua kota tersebut, sebagian besar orang yang meninggal adalah warga sipil.

Hiroshima dan Nagasaki dipilih sebagai target karena menjadi pusat militer dan industri. Kedua wilayah ini memasok sumber daya angkatan bersenjata Jepang, pembuatan senjata, dan teknologi militer lainnya.

Jepang menyerah pada 15 Agustus, enam hari setelah serangan di Nagasaki. Kedua kota tersebut dibangun kembali setelah perang, meskipun Hiroshima dilanda angin topan pada bulan September 1945 yang juga menyebabkan kehancuran besar.

Sekitar 145.000 orang yang selamat dari salah satu pemboman - disebut "hibakusha" dalam bahasa Jepang - masih hidup pada Maret 2019, menurut pemerintah Jepang. Peringatan telah dipasang di kedua kota untuk para korban pengeboman.

Infografik SC Little Boy & Fat Man. tirto.id/Sabit

Dampak Bom Hiroshima dan Nagasaki

Menurut Science Mag, bom Hiroshima menewaskan sekitar 90.000 sampai 120.000 orang, yang meninggal baik seketika atau selama beberapa minggu dan bulan berikutnya karena cedera atau penyakit radiasi akut, akibat kerusakan sumsum tulang dan saluran usus. Bom yang meratakan Nagasaki 3 hari kemudian merenggut 60.000 hingga 70.000 nyawa.

Perkiraan jumlah kematiannya kasar karena “tidak ada mayat yang tersisa untuk dihitung di dekat hiposenter: Panas dan energi secara harfiah menguapkan orang-orang di dekatnya. Dan banyak mayat hanyut ke laut, setelah korban luka bakar yang sekarat mencari bantuan di banyak sungai di Hiroshima," sosiolog sains Susan Lindee dari University of Pennsylvania menulis dalam bukunya tahun 1994 Suffering Made Real: American Science and the Survivors at Hiroshima.

Dalam waktu 6 minggu setelah pengeboman, tiga tim ahli AS dan dua Jepang bekerja di kedua kota untuk mempelajari dampak biologis dari radiasi. Tujuan mereka berbeda. Orang Jepang terutama berusaha memahami efek medis pada orang yang selamat. Orang Amerika ingin tahu bagaimana dan mengapa orang meninggal karena radiasi ledakan atom.

Salah satu kekhawatiran yang paling mendesak adalah kemungkinan dampak radiasi pada anak-anak penyintas. Jelas bahwa pengeboman itu berdampak pada anak-anak yang masih dalam kandungan pada Agustus 1945, mengakibatkan peningkatan jumlah bayi yang lahir dengan ukuran kepala kecil.

Radiasi pada orang dewasa menyebabkan perubahan genetik yang diwariskan dan cacat lahir pada keturunannya menunjukkan bahwa mungkin ada efek jangka panjang.

Para penyintas bom nuklir, telah lama mengalami diskriminasi karena khawatir mereka mungkin mengalami gangguan fisik atau psikologis dan bahwa anak-anak mereka mungkin mewarisi cacat genetik. Stigma telah mempengaruhi korban perempuan lebih dari laki-laki.

Peristiwa ini menjadi perdebatan di dunia, karena tetap menjadi satu-satunya bom nuklir yang digunakan dalam perang. Ada yang mengatakan kejadian ini mengakhiri Perang Dunia II lebih awal, yang akan menyebabkan lebih banyak korban di kedua belah pihak jika AS menginvasi Jepang.

Yang lain mengatakan, penggunaan bom nuklir dalam perang pada dasarnya tidak etis dan beberapa menyebut serangan itu sebagai kejahatan perang. Yang lain berpendapat ada cara yang lebih damai untuk mengakhiri perang daripada pengeboman nuklir atau invasi, seperti blokade militer di Jepang.

Bom-bom itu membuat bayangan panjang selama paruh kedua abad kedua puluh, dengan Perang Dingin antara AS dan Uni Soviet didominasi oleh kekhawatiran bahwa salah satu negara dapat menyerang yang lain dengan bom nuklir.

Kaitan Bom Hiroshoma dan Nagasaki dengan Indonesia

Pada 10 Agustus 1945 Sutan Syahrir mendapat info melalui radio bahwa Jepang telah kalah setelah Hiroshima dan Nagasaki dibom. Momen inilah yang dimanfaatkan Indonesia untuk mempercepat memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Dilansir situs web Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), pada 12 Agustus 1945, Sukarno, Hatta, dan Radjiman diterbangkan ke Dalat, Vietnam untuk melakukan perundingan kemerdekaan dengan Marsekal Terauchi.

Dengan menyerahnya Jepang, akhirnya para pemuda mendorong Sukarno dan Hatta untuk segera melakukan proklamasi lebih cepat. Untuk itu para pemuda yang dimotori oleh Chaerul Saleh, Sukarni dan Wikana membawa Sukarno dan Hatta ke Rengasdengklok.

Malam harinya, Sukarno dan Hatta kembali ke Jakarta dan menuju rumah Laksamana Maeda untuk melakukan penyusunan proklamasi.

Penyusunan proklamasi dilakukan oleh Sukarno, Muhammad Hatta, dan Achmad Subarjo. Penyusunan ini disaksikan oleh Sukarni, B.M Diah, Sudiro dan Sayuti Melik. Setelah itu naskah proklamasi di ketik oleh Sayuti Melik.

Pada pagi harinya, 17 Agustus 1945 pukul 10.00, di Jalan Pegangsaan Timur No.56, proklamasi kemerdekaan Indonesia dibacakan oleh Sukarno.

Baca juga:

Baca juga artikel terkait PENGEBOMAN HIROSHIMA DAN NAGASAKI atau tulisan menarik lainnya Dipna Videlia Putsanra
(tirto.id - dip/dip)

Penulis: Dipna Videlia Putsanra Editor: Iswara N Raditya

© 2022 tirto.id - All Rights Reserved.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar,

Kota Kokura luput dari pemboman pada 9 Agustus 1945, selang beberapa menit bom atom kemudian dijatuhkan di kota Nagasaki.

Dijadikan sasaran serangan bom atom setelah Hiroshima 75 tahun lalu, kota Kokura di Jepang lolos dari serangan udara yang dilancarkan pasukan AS.

Nama kota itu menjadi buah bibir di Jepang lantaran luput dari malapetaka.

Bagaimana Kokura urung diluluhlantakkan?

Kini kota Kokura sudah tidak ada lagi, dulu Kokura merupakan salah satu kota yang pada tahun 1963 bergabung menjadi menjadi satu dengan kota Kitakyushu, yang memiliki penduduk kurang dari satu juta.

Namun nama Kokura mempunyai kenangan tersendiri bagi orang-orang Jepang, mengingat kehancuran yang melanda negeri itu hampir dua dasawarsa sebelumnya.

Kokura menjadi salah satu target kota yang akan dijatuhi bom atom di Jepang pada tahun 1945, namun kota ini luput dari kehancuran yang mengerikan di hari-hari terakhir Perang Dunia Kedua.

Memang, Kokura nyaris dibom pada tanggal 9 Agustus, sama seperti Hiroshima yang dijatuhi bom atom tiga hari sebelumnya.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar,

Terkenal dengan kastel dari abad ke-17, Kokura kemudian bergabung dengan kota terdekatnya, Kitakyushu pada tahun 1963.

Namun senjata pemusnah itu tidak pernah dijatuhkan di sana, karena berbagai faktor memaksa Angkatan Udara AS mengalihkan sasarannya ke kota Nagasaki.

Peristiwa pengeboman tersebut diperkirakan telah menewaskan 140.000 orang di Hiroshima dan 74.000 jiwa di Nagasaki - sedangkan ribuan orang lainnya menderita efek radiasi selama bertahun-tahun berikutnya.

"Luck of Kokura" atau Keberuntungan Kokura menjadi ungkapan dalam bahasa Jepang untuk menggambarkan bagaimana kota itu lolos dari maut.

Namun apa yang sebenarnya terjadi?

Pada pertengahan Juli 1945, militer Amerika telah memilih sejumlah kota di Jepang yang dapat menjadi sasaran bom atom karena keberadaan sejumlah gudang senjata dan pangkalan militer, misalnya.

Dalam urutan prioritas Kokura sedianya akan dijatuhi bom atom setelah Hiroshima.

Karena di sana terdapat gudang produksi senjata dan menjadi salah satu tempat persenjataan besar tentara Jepang.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar,

"Fat Man", adalah nama bom atom yang sedianya akan dijatuhkan di Kokura, bom ini memiliki kekuatan 22.000 ton TNT.

Pada tanggal 6 Agustus kota Kokura sudah dalam status siaga untuk mengantisipasi dijatuhkannya bom atom setelah Hiroshima.

Tiga hari kemudian, pembom B-29 terbang ke Kokura dini hari, salah satunya membawa "Fat Man" - bom plutonium yang bahkan lebih kuat daripada bom uranium yang dijatuhkan di Hiroshima.

Namun kala itu kota Kokura diselimuti kabut tebal yang mungkin berasal dari asap pengeboman konvensional di kota terdekatnya, Yawata, sehari sebelumnya.

Beberapa sejarawan juga mengeklaim bahwa sejumlah pabrik di Kokura juga sengaja membakar batu bara agar muncul tabir asap di atas kota itu pada saat serangan udara dilancarkan di seluruh Jepang.

Menurut dokumen militer AS dan laporan William Laurence, seorang jurnalis New York Times yang bepergian dengan salah satu pesawat, pesawat B-29 mengitari kota Kokura sebanyak tiga kali.

Ada perintah untuk langsung menjatuhkan bom setelah ada jarak pandangnya jelas. Masalahnya pertahanan darat yang melihat pesawat-pesawat itu terus melancarkan tembakan.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar,

Peristiwa pengeboman tersebut diperkirakan telah menewaskan 140.000 orang di Hiroshima dan 74.000 jiwa di Nagasaki serta melukai ribuan lainnya.

Saat itulah Mayor Charles Sweeney, yang menerbangkan B-29 membawa bom, Bockscar, membuat keputusan untuk beralih ke Nagasaki.

Kokura lolos dari maut untuk kedua kalinya.

Pesawat-pesawat AS menyerang Jepang tanpa henti sejak Maret 1945, menggunakan bom berdaya ledak tinggi yang menghanguskan seluruh kota.

Sebuah serangan tunggal di Tokyo pada malam 9 Maret diperkirakan telah menewaskan lebih dari 83.000 orang dan menyebabkan lebih dari satu juta orang kehilangan tempat tinggal.

Namun pada saat pesawat pembom B-29 tiba di Kokura pada bulan Agustus, kota itu pada dasarnya masih utuh.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar,

Jepang menjadi sasaran berbagai pengeboman, namun kota Kokura luput dari serangan udara mematikan.

Kota itu lagi-lagi terhindar dari serangan udara yang dilancarkan AS, bersama kota-kota lain yang menjadi target pengeboman.

Para pejabat militer AS ingin kota-kota ini dilestarikan sehingga mereka dapat mempelajari kerusakan yang diakibatkan senjata pemusnah.

Pada 15 Agustus Kaisar Hirohito akhinrya mengumumkan Jepang menyerah tanpa syarat.

Kokura memang lolos dari kehancuran, namun orang-orang di kota itu merasa sedih .

Ketika muncul berita bahwa bom yang dijatuhkan di Nagasaki pada awalnya ditujukan untuk kota mereka, perasaan lega bercampur dengan kesedihan dan empati.

Di kota Kitakyushu terdapat Monumen Bom Atom Nagasaki, yang terletak di sebuah taman yang dibangun di atas lahan bekas gudang senjata, keberuntungan kota itu dan penderitaan Nagasaki, keduanya tergambar di monumen itu.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar,

Kitakyushu telah menjadi salah satu kota yang ramah lingkungan di Asia.

Kedua kota tersebut juga telah membina hubungan persahabatan selama beberapa dasawarsa, dan hubungan kedua wilayah yang terjalin diakui secara publik.

"Faktanya adalah bahwa bom atom yang dijadwalkan dijatuhkan di Kokura dijatuhkan di Nagasaki," kata juru bicara kota Kitakyushu kepada kantor berita Bloomberg tahun lalu.

Tetapi Kitakyushu juga melihat ke masa depan: selama rekonstruksi Jepang, kota industri itu pernah mengalami pencemaran yang merusak perairan Teluk Dokai.

Saat ini, Kitakyushu menjadi salah satu kota yang ramah lingkungan di Asia.