Apa yang anda ketahui tentang golongan tua dan golongan muda?

Jawaban:

1.) golongan muda: menghendaku proklamasi kemerdekaan Indonesia diselenggarakan secepatnya tgl 16 Agustus 1945 menghendaki proklamasi kemerdekaan Indonesia terlepas dari pengaruh Jepang yang menggap PPKI Jepang golongan tua yang lambat.golongan tua: menghendaki cepat atau lambat proklamasi kemerdekaan Indonesia.

2.) (teks proklamasi) (jawaban ada diatas gambar).

3.)Para pemuda menculik Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok selama satu hari pada tanggal 16 Agustus 1945. Melalui Peristiwa Rengasdengklok, para pemuda dan Soekarno-Hatta sepakat untuk memproklamasikan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945.

4.)Tujuan peristiwa Rengasdengklok

Karena pada saat itu terjadi kekosongan kekuasaan akibat Jepang menyerah kepada Sekutu. Menjauhkan Sukarno dan Mohammad Hatta dari pengaruh Jepang. Menunjukkan Proklamasi sebagai perjuangan bangsa Indonesia, sehingga harus segera dirumuskan dan diproklamasikan.

Proklamasi kemerdekaan Indonesia yang dikumandangkan pada 17 Agustus 1945 merupakan salah satu peristiwa terpenting dalam sejarah Indonesia. Namun, dibalik kemerdekaan Indonesia dari penjajah tersebut ada ketegangan yang tercipta dari golongan tua dan golongan muda terkait dengan perbedaan pandangan waktu tentang pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, sehingga terjadilah peristiwa Rengasdengklok.

Peristiwa Rengasdengklok adalah peristiwa penculikan yang dilakukan oleh sejumlah pemuda antara lain Soekarni, Wikana, Aidit, dan Chaerul Saleh dari perkumpulan “Menteng 31” terhadap proklamator Indonesia yaitu Soekarno dan Hatta. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 16 Agustus 1945 jam 3 dini hari, dimana Soekarno dan Hatta dibawa ke Rengasdengklok, Karawang.

Awal mula terjadinya peristiwa Rengasdengklok ini karena adanya perbedaan paham tentang waktu pengumuman Proklamasi Kemerdekaan Indonesia antara golongan tua dengan golongan muda. Ketegangan bermula dari berita kekalahan Jepang yang menyerah tanpa syarat pada sekutu pada 15 Agustus 1945.

Kabar tersebut membuat golongan muda mendesak golongan tua untuk segera memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia. Akan tetapi, Soekarno dan Hatta tidak ingin terburu-buru dan menginginkan proklamasi sesuai dengan PPKI, dikarenakan kekuasaan Jepang masih mendominasi Indonesia dan takut akan adanya pertumpahan darah pada saat proklamasi.

Golongan muda mendesak memproklamasikan kemerdekaan secepatnya dengan mempertimbangkan Indonesia dalam keadaan kekosongan kekuasaan. Negosiasi pun dilakukan dalam bentuk rapat PPKI, tetapi golongan muda tidak menyetujui rapat tersebut mengingat PPKI merupakan sebuah badan yang dibentuk oleh Jepang.

(Baca juga: Siapa Saja Tokoh Dibalik Penyusunan dan Pembacaan Teks Proklamasi?)

Para golongan muda khawatir apabila kemerdekaan yang sebenarnya merupakan hasil dari perjuangan bangsa Indonesia, menjadi seolah-olah merupakan pemberian dari Jepang. Golongan muda mengadakan rapat di ruangan Lembaga Bakteriologi di Pengangsaan Timur pada 15 Agustus 1945 jam 8 malam, dan rapat ini dihadiri oleh Chairul Saleh, Djohar Nur, Kusnandar Subadio, Margono, Wikana dan Alamsyah.

Hasil rapat dari golongan muda ini adalah tuntutan agar bangsa Indonesia sesegera mungkin memproklamasikan Kemerdekaan dengan menyertakan Soekarno dan Hatta untuk menyatakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 16 Agustus 1945.

Pada jam 10 malam, Wikana dan Darwis menuju kediaman Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta untuk menyampaikan hasil rapat tersebut, sehingga perdebatan pun terjadi menampakan perbedaan pendapat antara golongan tua dan golongan muda.

Menjelang 16 Agustus 1945 para pemuda mengadakan rapat sekali lagi dan menghasilkan keputusan untuk mengamankan Soekarno dan Moh Hatta ke luar kota dengan tujuan menjauhkan dari pengaruh Jepang. Dengan dukungan perlengkapan tentara PETA, maka pada 16 Agustus 1945 jam 04.30 Soekarno Hatta di bawa ke Rengasdengklok (yang dikenal dengan peristiwa Rengasdengklok).

Di Jakarta sendiri, golongan muda Wikana dan Golongan Tua Ahmad Soebardjo melakukan perundingan tempat proklamasi dan mereka pun menyetujui Jakarta untuk menjadi lokasinya. Maka dari itu, diutuslah Yusuf Kunto untuk mengantar Ahmad Soebarjo ke Rengasdengklok untuk menjemput Soekarno dan Hatta kembali ke Jakarta.

Sekitar jam 11 malam rombongan tiba di rumah kediaman Bung Karno untuk menurunkan Ibu Fatwamati (istri bung Karno) dan Guntur (putranya) yang kala itu dibawa ke Rengasdengklok.

Pada malam itu juga, sekitar jam 2 dini hari, Soekarno memimpin rapat PPKI di rumah Laksama Tadashi Maeda di Jalan Imam Bonjol No. 1 Jakarta, untuk membahas tentang persiapan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Keesokan harinya, tepatnya 17 Agustus 1945 pernyataan proklamasi dikumandangkan dengan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia yang diketik oleh Sayuti Melik menggunakan mesin ketik yang dipinjam dari kantor Kepala Perwakilan Angkatan Laut Jerman.

Perbedaan pendapat antara golongan tua dan golongan muda adalah berkaitan dengan pelaksanaan proklamasi kemerdekaan Indonesia dari mulai proses persiapan hingga pelaksanaan proklamasi.

Golongan Muda.

  1. Menghendaki Proklamasi Kemerdakaan Indonesia diselenggarakan secepatnya tanggal 16 Agustus 1945
  2. Menghendaki Proklamasi Kemerdekaan Indonesia terlepas dari pengaruh Jepang
  3. Menganggap PPKI  buatan Jepang
  4. Menganggap golongan tua sangat lamban

Golongan Tua

  1. Menghendaki cepat atau lambat Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tidak penting, tetapi pada dasarnya Proklamasi harus disiapkan secara matang
  2. Menghendaki Indonesia dapat merdeka tanpa pertumpahan darah
  3. Menghendaki proses Proklamasi Kemerdekaan melalui rapat PPKI
  4. Golongan tua lebih bersikap hati - hati

Dengan demikian, perdebatan antara golongan tua dengan golongan muda menjelang proklamasi kemerdekaan Indonesia terkait tentang waktu yang tepat untuk proklamasi kemerdekaan Indonesia. Golongan muda yang ingin kemerdekaan diproklamasikan segera, setelah Jepang menyerah dan sebelum datangnya pasukan Sekutu (termasuk Belanda) ke Indonesia untuk menghindari vacuum of power (kekosongan kekuasaan). Golongan tua berpendapat  bahwa proklamasi didiskusikan terlebih dahulu dengan PPKI, untuk mencegah pertumpahan darah dengan pasukan Jepang yang masih berada di Indonesia.  

Jakarta -

Peristiwa Rengasdengklok merupakan salah satu peristiwa penting menjelang detik-detik proklamasi kemerdekaan RI. Peristiwa ini diawali dengan ketidakcocokan pendapat antara golongan tua dan golongan muda.

Peristiwa Rengasdengklok terjadi pada 16 Agustus 1945. Namun, detikers juga perlu mengetahui latar belakang peristiwa tersebut.

Menurut buku Ilmu Pengetahuan Sosial [IPS] Terpadu 2B SMP Kelas VIII karya Anwar Kurnia, bersamaan dengan menyerahnya Jepang kepada sekutu, para pemuda yang dipimpin Chaerul Saleh mengadakan pertemuan di Gedung Lembaga Bakteriologi di Jalan Pegangsaan Timur No. 17 Jakarta. Kini, gedung tersebut merupakan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.

Pertemuan ini terjadi pada 15 Agustus 1945 pada pukul 20.00 WIB. Dari agenda tersebut, didapatkan beberapa keputusan, yaitu:

1. Mendesak Soekarno-Hatta untuk memproklamasikan kemerdekaan hari itu juga.

2. Menunjuk Tikana, Darwis, dan Subadio untuk menemui Soekarno-Hatta dan menyampaikan keputusan rapat. Namun dengan catatan, kemerdekaan tidak diproklamasikan melalui Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia [PPKI]

3. Membagi tugas kepada mahasiswa, pelajar, dan pemuda di seluruh Jakarta untuk merebut kekuasaan dari Jepang.

Sesuai keputusan tersebut, pada 22.00 WIB Wikana dan yang lain menemui Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta, yang merupakan kediaman Soekarno. Ketika Wikana menyampaikan bahwa proklamasi harus dilaksanakan pada 16 Agustus 1945, Soekarno menolak.

Alasannya, ia tidak dapat melepas tanggung jawab sebagai ketua PPKI dan akan menanyakan hal tersebut pada wakil-wakil PPKI di keesokan harinya. Dari sinilah peristiwa Rengasdengklok dimulai.

Bagaimana peristiwa Rengasdengklok terjadi?

Terhadap penolakan tersebut, golongan muda tidak berputus asa. Mereka kembali bertemu di Asrama Baperpi di Jalan Cikini Nomor 71 Jakarta pada pukul 24.00 WIB.

Dari pertemuan tersebut, mereka memutuskan untuk membawa Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok. Tujuannya, adalah menjauhkan kedua tokoh tersebut dari tekanan atau pengaruh Jepang.

Sebagaimana rencana, tanggal 16 Agustus 1945 pada pukul 04.00 WIB, Soekarno-Hatta dibawa para pemuda yang dipimpin oleh Slodanco Singgih ke Rengasdengklok. Para pemuda menyampaikan alasan pada kedua tokoh tersebut bahwa semangat rakyat menyongsong kemerdekaan yang meluap dapat mengancam keduanya jika masih berada di Jakarta.

Setelah berdebat, Soekarno-Hatta akhirnya menerima alasan para pemuda.

Soekarno berangkat ke Rengasdengklok bersama Ibu Fatmawati dan Guntur yang kala itu masih bayi. Sementara Moh. Hatta dan pengawalnya ada di mobil lain.

Demi tidak dicurigai Jepang, Soekarno-Hatta dan para pengawal mereka memakai seragam Peta dan menuju rumah Jiu Kie Song di Rengasdengklok.

Ketika berada di Rengasdengklok, para pemuda mendesak Soekarno-Hatta untuk melaksanakan proklamasi yang terlepas dari pengrauh Jepang. Namun, kehendak tersebut tidak terlaksana dan para pemuda segan untuk terus mendesak.

Akhirnya, Syodanco Singgih berusaha berbicara kembali dengan Soekarno hingga ia setuju bahwa proklamasi akan diadakan tanpa campur tangan Jepang.

Soekarno setuju melakukannya dengan catatan, akan dilakukan jika sudah kembali ke Jakarta. Sehingga, para pemuda segera berencana kembali ke Jakarta.

Pada waktu yang bersamaan, diadakan juga pertemuan di Jakarta antara golongan tua yang diwakili Ahmad Soebarjo dan golongan muda yang diwakili Wikana. Keduanya bersepakat bahwa proklamasi harus dilakukan di Jakarta.

Kemudian, Ahmad Soebarjo menjemput Soekarno dari Rengasdengklok. Rombongan ini diantar Yusuf Kunto dari golongan pemuda dan Sudiro yang merupakan sekretarisnya.

Rombongan tersebut tiba di Rengasdengklok pada 16 Agustus 1945 pukul 17.30 WIB. Ketika itu, Ahmad Soebarjo menjamin dengan nyawanya bahwa proklamasi akan dilaksanakan pada 17 Agustus 1945. Dengan jaminan itu, para pemuda bersedia melepaskan Soekarno-Hatta kembali ke Jakarta.

Proklamasi Kemerdekaan yang kita peringati setiap tanggal 17 Agustus adalah sebuah peristiwa bersejarah bagi bangsa Indonesia. Proklamasi, telah mengubah perjalanan sejarah, membangkitkan rakyat dalam semangat kebebasan. Merdeka dari segala bentuk penjajahan.

Proklamasi, ternyata didahului oleh perdebatan hebat antara golongan pemuda dengan golongan tua. Baik golongan tua maupun golongan muda, sesungguhnya sama-sama menginginkan secepatnya dilakukan Proklamasi Kemerdekaan dalam suasana kekosongan kekuasaan dari tangan pemerintah Jepang. Hanya saja, mengenai cara melaksanakan proklamasi itu terdapat perbedaan pendapat.

Golongan tua, sesuai dengan perhitungan politiknya, berpendapat bahwa Indonesia dapat merdeka tanpa pertumpahan darah, jika tetap bekerjasama dengan Jepang. Karena itu, untuk memproklamasikan kemerdekaan, diperlukan suatu revolusi yang terorganisir.

Soekarno dan Hatta bermaksud membicarakan pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan dalam rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia [PPKI]. Dengan cara itu, pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan tidak menyimpang dari ketentuan pemerintah Jepang.

Sikap inilah yang tidak disetujui oleh golongan pemuda. Mereka menganggap, bahwa PPKI adalah badan buatan Jepang. Sebaliknya, golongan pemuda menghendaki terlaksananya Proklamasi Kemerdekaan itu, dengan kekuatan sendiri. Lepas sama sekali dari campur tangan pemerintah Jepang.

Skip to content

Peristiwa Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia terwujud dengan dorongan para pemuda yang didukung oleh golongan tua. Sempat berbeda pendapat hingga terjadi Peristiwa Rengasdengklok, dua golongan tersebut lantas membulatkan tekad memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.

Oleh Vincentius Gitiyarko

Jumat, 14 Agustus 2020 07:00:34 WIBRabu, 18 Agustus 2021 15:08:03 WIB

KOMPAS/IMAN NUR ROSYADI Rumah millik Djiauw Kee Siong di Kampung Bojong, Rengasdengklok, Jawa Barat, menjadi tempat bersejarah karena sempat menampung Soekarno dan Hatta pada tanggal 16 Agustus 1945, setelah kedua pimpinan negara itu [...] This entry was posted in Paparan Topik and tagged 17 Agustus, Agustusan, Dirgahayu RI 75, HUT RI 75, Kemerdekaan RI, proklamasi, Rengasdengklok.