Bagaimanakah kegiatan ekonomi yang dilakukan dalam Kerajaan Kutai?

Ditulis Oleh: Muhammad Sarip
01 Februari 2021

kaltimkece.id Maharaja Mulawarman baru saja tiba di sebuah lapangan ketika ritual penting dengan aneka sesembahan sebentar lagi dimulai. Pemimpin kerajaan kuno di tepi Sungai Mahakam itu akan mengikuti upacara yang menandakannya memeluk Hindu. Pelbagai persembahan yang disiapkan di antaranya minyak kental, obor, bunga malai, serta sapi yang amat banyaknya.

Suatu hari pada 16 abad silam, Mulawarman menyerahkan seluruh derma itu kepada para brahmana dari India. Upacara di padang yang disebut waprakeswara itu berjalan menurut ajaran kitab Weda. Selepas ritual selesai, para brahmana mengabadikannya. Mereka membangun tujuh tugu bertuliskan aksara Pallawa dalam bahasa Sanskerta. Tugu-tugu tersebut dikenal sebagai prasasti yupa yang kini disimpan di Museum Nasional, Jakarta.

Satu dari prasasti yupa memuat informasi yang fantastis. Derma sapi dari Maharaja Mulawarman sebanyak 20 ribu ekor. Demikian isi prasasti yupa yang diberi kode D.2b. Alih aksara atau transliterasinya ke aksara Latin ialah sebagai berikut.

dvijātibhyo gnikalpebhyaḥ

Artinya, Sri Mulawarman sebagai raja mulia dan terkemuka, telah memberikan sedekah 20.000 sapi kepada para Brahmana yang seperti api di tanah yang suci Waprakeswara. Sebagai tanda kebajikan Sang Raja, tugu peringatan dibuat oleh para Brahmana yang datang ke tempat tersebut (Sejarah Nasional Indonesia II Zaman Kuno (Awal M–1500 M), 2008, hlm 39).

Keterangan yang terbatas dari prasasti yupa menimbulkan pertanyaan kritis. Hendak diapakan 20 ribu ekor sapi itu? Apakah dikurbankan secara harfiah yang berarti dijagal atau disembelih? Apakah dagingnya digunakan sebagai bahan kenduri superbesar? Jika begitu, bukankah agama Hindu meyakini sapi sebagai hewan suci sehingga tidak boleh dialirkan darahnya?

Sapi Pertanda Majunya Perekonomian

Mulawarman adalah putra Aswawarman atau cucu Kundungga. Ia memerintah pada abad kelima. Kerajaan yang Mulawarman pimpin diperkirakan berlokasi di sekitar Muara Kaman, 100 kilometer dari Samarinda, kini sebuah kecamatan di Kutai Kartanegara. Beberapa pihak menamakan kerajaan tersebut Kutai. Penamaan tersebut menyeruak karena prasasti yupa yang ditemukan pada abad ke-19 berlokasi di wilayah Kesultanan Kutai Kertanegara.

Namun demikian, dari ketujuh prasasti yupa, sebenarnya tidak satu pun yang menyebut Kutai sebagai nama kerajaan. Sejarawan dan ilmuwan sastra Melayu, Constantinus Alting Mees, menegaskan perihal nama Kutai yang bukan kepunyaan Dinasti Mulawarman. Dalam disertasinya, Mees menyatakan bahwa koloni Hindu di Muara Kaman itu tidak pernah dinamakan Kutai. Nama Kutai baru dikenal sejak Aji Batara Agung Dewa Sakti mendirikan kerajaan di muara Sungai Mahakam pada pengujung abad ke-13 (De Kroniek van Koetai Tekstuitgave Met Toelichting, 1935, hlm 12).

Dengan kata lain, Kutai adalah nama kerajaan lain yang berdiri di kawasan hilir Sungai Mahakam. Ada perbedaan masa sembilan abad antara lahirnya Kerajaan Kutai di hilir dengan pendirian prasasti yupa di Muara Kaman. Hasil penelitian atas naskah historiografi tradisional Salasilah Raja dalam Negeri Kutai Kertanegara menunjukkan, nama yang sebenarnya dari imperium turunan Kundungga yang runtuh pada 1635 adalah Martapura, tanpa didahului kata Kutai (Kajian Etimologis Kerajaan (Kutai) Martapura di Muara Kaman, Kalimantan Timur, 2020, hlm 50).

Kerajaan Martapura mencapai masa keemasan di bawah pemerintahan Mulawarman. Persembahan sapi sebanyak 20 ribu ekor adalah buktinya. Menurut analisis ahli epigrafi seperti Prof Johan Hendrik Caspar Kern dan Louis Charles Damais, Mulawarman mempersembahkan sapi-sapi tersebut pada permulaan abad kelima Masehi.

Kemampuan kerajaan menyediakan persembahan 20 ribu ekor sapi adalah petunjuk majunya perekonomian. Jika sapi-sapi didatangkan melalui impor, kerajaan berarti mempunyai sumber daya ekonomi atau alat tukar emas yang cukup. Sementara bila sapi adalah produksi mandiri, Muara Kaman berarti memiliki keberhasilan di sektor peternakan.

Angka 20 ribu sapi memang amat fantastis pada masa itu. Walaupun prasasti yupa menyebutkan sedemikian, kalangan arkeolog meragukannya secara tekstual. Kesangsian itu berpangkal dari kemampuan pekerja, jumlah penggembala, serta ketersediaan logistik dan akomodasi untuk memperoleh sapi sebanyak itu.

Edhie Wurjantoro, dosen arkeologi dari Universitas Indonesia, mengajukan satu kemungkinan. Apabila hadiah 20 ribu sapi itu tidak dimaknai secara harfiah, maka riilnya hanya mengacu kepada sebuah ritual tertentu (Indonesia dalam Arus Sejarah Jilid 2: Kerajaan Hindu-Buddha, 2008, hlm 43). Dengan kata lain, menurut asumsi ini, jumlah sebesar itu hanya sebagai simbol. Sapi 20 ribu ekor bukan jumlah yang sebenarnya.

Berapa ekor pun sapi-sapi tersebut, perekonomian kerajaan bisa dianggap maju karena mampu menyediakan ternak dalam jumlah besar. Lagi pula, Kerajaan Martapura diketahui telah menjalin hubungan dengan dunia luar. Kehadiran para Brahmana dari India di tempat upacara suci di Muara Kaman adalah petunjuk yang kuat. Brahmana adalah pemuka agama Hindu yang merupakan golongan istimewa. Tidak setiap orang bisa menjadi brahmana kecuali mempunyai garis keturunan brahmana pula. Dapat disimpulkan bahwa para brahmana yang datang ke Muara Kaman berasal dari India, bukan orang lokal.

Pemanfaatan Sapi

Hindu sebagai agama berproses dalam sejumlah tahapan. Pada awalnya, Hindu dinamakan ajaran Weda. Pada akhir periode Weda, belum ada dogma kesucian sapi. Hewan ternak itu masih boleh dikonsumsi dagingnya. Perubahan dogma terjadi pasca-Mahabharata memasuki abad-abad permulaan tarikh Masehi. Ajaran kesucian sapi didoktrinkan di kalangan brahmana dan tersebar luas di antara komunitas Hindu (The Sanctity of the Cow in Hinduism, 1964, hlm 245).

Lantas, Dinasti Mulawarman menganut yang mana? Apakah Hindu yang menyucikan sapi atau Weda yang masih membolehkan makan sapi?

Jawabannya bisa diperoleh dari prasasti yupa yang lain. Menurut prasasti yupa berkode D.177, Mulawarman telah menaklukkan raja-raja lain dan menguasainya seperti Raja Yudhistira. Penyebutan Yudhistira mengindikasikan bahwa Kerajaan Martapura di Muara Kaman telah melewati masa susastra suci Mahabharata karya Begawan Wiyasa. Dalam epos Sebelum Masehi itu, diceritakan bahwa Yudhistira adalah putra tertua dari kubu Pandawa yang memenangkan perang besar melawan Kurawa dan merebut kembali takhta Kerajaan Hastinapura (Kitab Epos Mahabharata, 2017, hlm 17–18).

Petunjuk berikutnya ada pada nama Aswawarman. Nama ayah dari Mulawarman ini berawalan “Aswa”. Menurut kolega Kern, Jean Philippe Vogel, nama itu terpengaruh oleh “Aswatama” dalam epos Mahabharata. Adapun Aswatama, adalah putra Mahaguru Durna dan mahasenapati bala tentara Kurawa yang terakhir (The Yupa Inscription of King Mulawarman, from Koetei (East Borneo), 1918, hlm 171). Hal ini mengisyaratkan bahwa Kerajaan Martapura menganut Hindu yang menjaga kesucian sapi. Dengan kata lain, sapi tidak boleh dikonsumsi dagingnya.

Petunjuk lain adalah dari mitologi setempat. Pada tarikh 1300 Masehi, berdiri kerajaan bernama Kutai Kertanegara di hilir Sungai Mahakam. Kerajaan ini menganut religi Hindu corak lokal, tidak seperti Martapura di Muara Kaman dengan Hindu corak India.

Kerajaan Kutai Kertanegara mempunyai satwa mitologis bernama lembu suwana. Hewan ini bukan untuk pangan protein melainkan wahana atau kendaraan tunggangan raja dan permaisuri. Penamaan lembu menunjukkan hewan tersebut berasal dari sapi yang dikebiri. Sampai Kutai Kertanegara berubah menjadi kerajaan Islam pada 1575, lalu menjadi kesultanan sejak 1732, keberadaan lembu suwana tidak dihapuskan dari kepercayaan setempat. Lembu suwana kini bahkan divisualisasikan dalam wujud patung. Satwa itu dijadikan ornamen atau hiasan di pelbagai fasilitas umum di Kalimantan Timur.

Kultur penduduk di Daerah Aliran Sungai Mahakam juga memiliki hubungan dengan lembu atau sapi. Dari hilir sampai ke hulu, terdapat kepercayaan akan eksistensi satwa mitologis berupa ular lembu. Hewan ini dipercaya bersemayam di Mahakam selain lembu suwana. Menurut tradisi lisan, satwa ini berbentuk ular dengan tubuh sangat panjang berdiameter seukuran drum dan berkepala seperti lembu. Panjangnya diperkirakan setara lebar Sungai Mahakam atau sekitar 300–500 meter (Sejarah Sungai Mahakam di Samarinda dari Mitologi ke Barbarisme sampai Kemasyhuran, 2016, hlm 85).

Unsur kepercayaan dari dua satwa mitologis tersebut, yang notabene masih terkait sapi, menandakan bahwa daging sapi pada masa lampau tidak umum dikonsumsi. Makanya, upacara persembahan atau yajña yang digelar Mulawarman, besar kemungkinan tidak menumpahkan darah sapi.

Munculnya anggapan dan polemik bahwa persembahan 20 ribu ekor sapi disembelih, bermula dari penggunaan terminologi “sedekah” dalam teks Indonesia untuk riwayat Mulawarman. Bagi sebagian kalangan muslim, sedekah sapi terasosiasi dengan kegiatan donasi hewan kurban untuk ritual hari raya Iduladha. Kurban dalam Islam ialah pemotongan sapi. Hal ini merupakan disorientasi yang kemudian menimbulkan mispersepsi karena religi Hindu berbeda dengan Islam. Kurban dalam Hindu tidak harus berupa penyembelihan hewan.

Supaya tidak keliru paham, penggunaan diksi “sedekah” dari serapan bahasa Arab semestinya diganti dengan “derma” yang diserap dari bahasa Sanskerta. Derma sapi akan lebih memperjelas bahwa hewan tersebut diberikan atau dihadiahkan tanpa asumsi akan dijagal. Sapi bisa diambil susunya atau dimanfaatkan sebagai pembajak sawah. Sang Krishna dalam Bhagawadgita kepada Arjuna pada Sloka 33 menyatakan, lebih baik daripada pengorbanan materi adalah jñāna-yajña, pengorbanan dalam bentuk kebijaksanaan karena semua tindakan tanpa kecuali memuncak dalam kebijaksanaan (pengetahuan) (Intisari Yajña dalam Ajaran Hindu, 2013, hlm 33).

Perbedaan anggapan dan interpretasi mengenai sapi persembahan Mulawarman ini meninggalkan sejumlah pelajaran. Sebagaimana banyak fragmen sejarah, sumber informasi mengenai derma sapi di Muara Kaman tidak diwartakan dengan detail dan tekstual. Akan tetapi, tabir masa lalu tetap dapat disingkap lewat interpretasi sesuai metode penelitian sejarah. Yang jelas, historiografi itu dinamis dan tidak pernah mencapai finalisasi. (*)

Penulis adalah alumnus Sertifikasi Kompetensi Penulis Sejarah Kemdikbud 2020, berdomisili di Samarinda.

Editor: Fel GM

Senarai Kepustakaan