Pemerintah berupaya untuk berperan dalam mengurangi pemanasan global dengan cara

PEMERINTAH Indonesia menggalakkan dan mendorong implementasi revolusi industri 4.0 untuk meningkatkan daya saing Indonesia seiring dengan implementasi Sustainable Development Goals (SDGs) seperti penanganan perubahan iklim.

"Pemanasan global lebih dari sebuah masalah, memiliki dampak tidak menguntungkan bagi ekosistem dunia. Pemerintah Indonesia mengambil tindakan untuk mengatasi ini antara lain mengajak civitas akademika untuk berperan aktif mengurangi dampak pemanasan global," ujar Rektor Universitas Pancasila (UP) Prof Edie Toet Hendratno.

Pernyataan Rektor UP disampaikan dalam webinar internasional tentang Green Campus dan Sustainable Development Goals (SDGs) yang digelar dalam rangkaian Dies Natalis ke-55 UP serta pemeringkatan dari UI GreenMetric, secara daring, Kamis (21/10).

Tema webinar yang diusung yaitu Technology Innovation & Implementation for Green Campus based on SDGs.

Edie Toet melanjutkan pada 2013 misalnya, pemerintah Indonesia menetapkan beberapa kampus sebagai kampus percontohan untuk kampus hijau (green campus) seperti UP.

"Dengan memadukan hasil riset, inovasi, dan industri 4.0, UP berupaya meningkatkan kualitas dan kuantitas kajian sesuai renstra, visi dan misi institusi. Karena itu, diperlukan peningkatan pengetahuan dan implementasi penelitian untuk mewujudkan program Green Campus dan SDGs 2030 dengan baik," pungkas Edie.

SDGs atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan merupakan rencana terbaik dunia pada 2030 dalam membangun dunia yang lebih baik bagi manusia dan planet.

Diadopsi semua negara anggota PBB pada 2015, SDGs adalah seruan untuk bertindak, dilakukan oleh semua negara-miskin, kaya, dan menengah, guna mempromosikan kemakmuran, serta melindungi lingkungan.

Dari 17 tujuan pembangunan berkelanjutan pada SDG's, ditetapkan 5 chapter yang akan dikembangkan UP yaitu: #4:Pendidikan berkualitas; #6: Akses Air Bersih dan Sanitasi; #7: Energi Bersih dan Terjangkau; #9: Infrastruktur, Industri, dan Inovasi; #11: Kota dan Komunitas yang Berkelanjutan.

Ketua Dewan Pembina Yayasan Pendidikan dan Pembina UP Siswono Yudo Husodo menyampaikan UP merupakan salah satu perguruan tinggi yang menerapkan konsep Green Campus.

Mengacu pada Universitas Indonesia Green Metric (UI Green Metric) awal Agustus 2021 lalu, yang merupakan salah satu pemeringkatan internasional, UP menjadi bagian dari 88 perguruan tinggi di Indonesia dan 912 perguruan tinggi di dunia.

"UP memiliki program green campus yang sejalan dengan SDG's Goals. Antara lain kampus kami mengimplementasikan efisiensi energi yang rendah emisi, melakukan konservasi sumber daya, dan meningkatkan kualitas lingkungan, dengan cara mendidik warganya untuk menjalankan pola hidup sehat, serta menciptakan lingkungan belajar yang kondusif secara bekelanjutan," kata Siswono.

Karena itu, Siswono berharap, pada webinar internasional bisa dimanfaatkan untuk saling berbagi pengalaman, ide, dan pengetahuan, antar kampus dan institusi lainnya.

Pembicara webinar lainnya yakni Kepala LLDikti Wilayah III Prof Agus Setyo Budi, Chairperson of UI GreenMetric Prof Riri Fitri Sari, dan Menteri Negara KLH periode 1983-1993 Prof.Emil Salim. 

Prof.Emil Salim menambahkan untuk meningkatkan daya saing Indonesia di antara negara-negara maju dan seiring dengan implementasi SDG's, kalangan akademisi di Indonesia memiliki peran edukasi, menciptakan inovasi dan meningkatkan produktivitas. (RO/OL-09)

Kegiatan manusia sehari-hari tidak luput dari penggunaan sumber-sumber daya alam seperti minyak bumi, batu bara dan gas alam. Manusia senantiasa menggali sumber daya alam tersebut secara besar-besaran. Sehingga dari hasil tersebut dapat meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Namun, manusia juga lalai untuk menjaga, merawat dan melindungi alam. Maka sering terjadi bencana alam karena ulah manusia itu sendiri. Salah satu bencana tersebut mengenai pemanasan global

Menurut orang awam, pengertian pemanasan global adalah naiknya suhu permukaan bumi. Hal tersebut dikarenakan meningkatnya efek rimah kaca di atmosfer. Peningkatan itu terjadi karena beberapa hal seperti : Bertambahnya jumlah karbondioksida (CO2) yang berasal dari pembakaran bahan bakar fosil (minyak bumi, batu bara, gas alam dll) oleh beberapa pabrik / perusahaan industri. Sehingga terjadi pula pencemaran baik di tanah, air, udara. Selain itu ada pula penggundulan hutan secara besar-besaran. Dan masih banyak lagi sebab-sebab lainnya. Dengan demikian terjadi akibat pemanasan global yaitu mencairnya mencairnya es dikutub utara dan kutub selatan. Pencairan es tersebut mengakibatkan pula permukaan air laut . Sehingga memperbesar resiko banjir di wilayah sekitar pantai/laut.

Ada pula terjadi perubahan iklim yang menjadi semakin panas dan kering. Apabila kejadian tersebut terjadi secara terus menerus maka dapat mengancam kehidupan manusia di Bumi. Setelah kita mengetahui dampak dari pemanasan global sangatlah serius. Maka kita perlu melakukan suatu perubahan tentang aktivitas penggunaan sumber daya alam. Agar jangan sampai merugikan seluruh makhluk hidup. Adapun pula yang dilakukan diantaranya adalah mengurangi emisi karbondioksida yang berate penggunaan bahan bakar fosil untuk industri harusah dikurangi. Menghentikan penggundulan hutan serta penanaman kembali hutan yang telah gundul secara intensif. Namun, tanpa adanya kesadaran dari kita sebagai manusia maka upaya mengurangi pemanasan global tidak akan berhasil. Pastinya kita ingin kehidupan yang seimbang (balance) dengan alam. Sehingga kelak anak cucu kita juga dapat menikmati hasil sumber daya alam yang sangat berlimpah

Pemanasan global

Pemanasan global adalah proses di bumi ini yang tidak dapat dihindari manusia menyongsong masa depan. Dampak bagi generasi penerus yang terjadi ternyata sangat mengerikan bila masalah ini tidak dijadikan sebagai prioritas utama. Berbagai faktor berpengaruh dalam permasalahan pemanasan global. Manusia sebagai salah satu faktor penentu seharusnya harus ikut terlibat secara penuh dalam mengantisipasi dampak yang ditimbulkannya.

Pemanasan global adalah suatu proses meningkatnya suhu rata-rata atmosfer, laut dan dataran bumi, yang disebabkan oleh banyak hal namun yang paling mendominasi adalah efek rumah kaca, efek umpan balik dan variasi matahari. Pemanasan global memberikan banyak sekali efek negatif, salah satunya yang saat ini kita bisa rasakan adalah perubahan cuaca dan iklim yang ekstrim.

Konsumsi total bahan bakar fosil di dunia meningkat sebesar 1 persen per-tahun. Berbagai langkah-langkah yang dilakukan atau yang sedang menjadi wacana saat ini relatif belum dapat mencegah pemanasan global di masa depan.

Namun, sampai sekarang sepertinya belum ada solusi kongkrit yang dapat menanggulangi permasalahan pemanasan global ini. Dunia memang sudah mengadakan konferensi-konferensi untuk membahas penanggulangan masalah ini namun sampai sekarang ini hanya disajikan dengan hasil-hasil konferensi yang lebih bersifat teori. Sedangkan, yang dibutuhkan saat ini adalah solusi kongkrit yang masyarakat dunia bisa mempraktekanya dengan mudah dan cepat. Karena masalah pemanasan global ini adalah masalah yang berpacu dengan waktu. Sedikit saja salah memperhitungkan waktu kita akan menyesal nantinya.

Konferensi-konferensi dunia yang telah dilaksanakan untuk membahas tentang penanggulangan pemanasan global. Dulu kita telah mengenal protokol Kyoto, dan baru- baru ini dunia juga telah mengadakan konferensi tentang pemanasan global yang berlangsung di Nusa Dua – Bali tahun 2007 yang lalu yang dikenal dengan UNFCCC (United Nations Framework Conference of Climate Change)

Konferensi tersebut menghasilkan keputusan-keputusan yang akan menjadi jalan untuk mencapai konsensus baru lebih lanjut pada 2009 di Kopenhagen, Denmark sebagai pengganti Protokol Kyoto fase pertama yang berakhir pada tahun 2012 mendatang. Keputusan – keputusan tersebut dikenal sebagai peta jalan Bali ( Bali road map ).

Konferensi–konferensi dunia memang diperlukan untuk membahas masalah ini karena bersifat mendunia. Namun hasil konferensi seharusnya bukan hanya keputusan-keputusan yang menjadi teori belaka. Tapi yang dibutuhkan adalah penerapan dan pelaksanaan keputusan–keputusan konferensi tersebut tersebut dengan ketentuan waktu sesegera mungkin baik oleh pemerintahan atau masyarakat.

Penanganan pemanasan global bisa saja mulai dari diri sendiri. Penerapan pada diri sendiri melalui cinta lingkungan, misalnya kita membeli satu pot tanaman yang kita suka, lalu kita tanam di halaman rumah kita dan kita rawat dengan baik.

Memang terlihat sepele, tapi coba tanamkan dalam hati bahwa dengan satu pot tanaman yang benar- benar dirawat sendiri itu sudah menyumbangkan oksigen untuk dunia. Bayangkan apabila seluruh masyarakan dunia melakuan hal yang sama. Hala yang mungkin kita anggap sepele tadi bisa menjadi hal yang sangat besar manfaatnya. Yaitu meminimalisir dampak dari global warming.

Tantangan yang ada saat ini adalah mengatasi efek yang timbul sambil melakukan langkah-langkah untuk mencegah semakin berubahnya iklim di masa depan.

Kerusakan yang parah dapat diatasi dengan berbagai cara. Daerah pantai dapat dilindungi dengan dinding dan penghalang untuk mencegah masuknya air laut.

Kesepakatan Penanggulangan Pemanasan Global

Delegasi internasional berhasil mencapai kesepakatan, mengenai cara terbaik memerangi perubahan iklim. Sebelumnya, China berupaya mencairkan bahasa yang digunakan dalam penghentian emisi gas rumah kaca yang destruktif. Perdebatan tertutup yang mencakup penggunaan energi nuklir hingga biaya pemanfaatan energi ramah lingkungan ini, berlangsung hingga Jumat subuh. Para delegasi berdebat mengenai penggunaan kata-kata. Namun konsensus akhirnya dicapai untuk dapat meluncurkan laporan dari Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), suatu jejaring ilmuwan beranggotakan sekitar 2.000 ilmuwan dan delegasi dari 120 negara.

China yang merupakan polutan terbesar setelah Amerika Serikat (AS) memiliki posisi teguh selama pertemuan empat hari di Thailand. Bersama India dan negara-negara berkembang lainnya, China mendorong agar sasaran terendah dipakai untuk karbon dioksida (CO2) di atmosfer, begitu para delegasi menjelaskannya.

Draf laporan yang diusulkan membatasi konsentrasi gas rumah kaca antara 445 parts per million (ppm) dan 650 ppm. China berusaha menujukannya pada yang tertinggi agar ekonomi mereka yang meningkat tidak terganggu.

Pemerintah dapat membantu populasi di pantai untuk pindah ke daerah yang lebih tinggi. Beberapa negara, seperti Amerika Serikat, dapat menyelamatkan tumbuhan dan hewan dengan tetap menjaga koridor (jalur) habitatnya, mengosongkan tanah yang belum dibangun dari selatan ke utara. Spesies-spesies dapat secara perlahan-lahan berpindah sepanjang koridor ini untuk menuju ke habitat yang lebih dingin.

Ada dua pendekatan utama untuk memperlambat semakin bertambahnya gas rumah kaca. Pertama, mencegah karbon dioksida dilepas ke atmosfer dengan menyimpan gas tersebut atau komponen karbon-nya di tempat lain. Cara ini disebut carbon sequestration (menghilangkan karbon). Kedua, mengurangi produksi gas rumah kaca.

Menghilangkan karbon

Cara yang paling mudah untuk menghilangkan karbondioksida di udara adalah dengan memelihara pepohonan dan menanam pohon lebih banyak lagi. Pohon, terutama yang muda dan cepat pertumbuhannya, menyerap karbondioksida yang sangat banyak, memecahnya melalui fotosintesis, dan menyimpan karbon dalam kayunya. Di seluruh dunia, tingkat perambahan hutan telah mencapai level yang mengkhawatirkan. Di banyak area, tanaman yang tumbuh kembali sedikit sekali karena tanah kehilangan kesuburannya ketika diubah untuk kegunaan yang lain, seperti untuk lahan pertanian atau pembangunan rumah tinggal. Langkah untuk mengatasi hal ini adalah dengan penghutanan kembali yang berperan dalam mengurangi semakin bertambahnya gas rumah kaca.

Gas karbondioksida juga dapat dihilangkan secara langsung. Caranya dengan menyuntikkan (menginjeksikan) gas tersebut ke sumur-sumur minyak untuk mendorong agar minyak bumi keluar ke permukaan (lihat Enhanced Oil Recovery). Injeksi juga bisa dilakukan untuk mengisolasi gas ini di bawah tanah seperti dalam sumur minyak, lapisan batubara atau aquifer. Hal ini telah dilakukan di salah satu anjungan pengeboran lepas pantai Norwegia, di mana karbondioksida yang terbawa ke permukaan bersama gas alam ditangkap dan diinjeksikan kembali ke aquifer sehingga tidak dapat kembali ke permukaan.

Salah satu sumber penyumbang karbondioksida adalah pembakaran bahan bakar fosil. Penggunaan bahan bakar fosil mulai meningkat pesat sejak revolusi industri pada abad ke-18. Pada saat itu, batubara menjadi sumber energi dominan untuk kemudian digantikan oleh minyak bumi pada pertengahan abad ke-19. Pada abad ke-20, energi gas mulai biasa digunakan di dunia sebagai sumber energi. Perubahan tren penggunaan bahan bakar fosil ini sebenarnya secara tidak langsung telah mengurangi jumlah karbondioksida yang dilepas ke udara, karena gas melepaskan karbondioksida lebih sedikit bila dibandingkan dengan minyak apalagi bila dibandingkan dengan batubara. Walaupun demikian, penggunaan energi terbaharui dan energi nuklir lebih mengurangi pelepasan karbondioksida ke udara. Energi nuklir, walaupun kontroversial karena alasan keselamatan dan limbahnya yang berbahaya, bahkan tidak melepas karbondioksida sama sekali.
Persetujuan internasional Protokol Kyoto

Reaksi dunia dengan adanya pemanasan global

Kerjasama internasional untuk mensukseskan pengurangan gas-gas rumah kaca. Di tahun 1992, pada Earth Summit di Rio de Janeiro, Brazil, 150 negara berikrar untuk menghadapi masalah gas rumah kaca dan setuju untuk menterjemahkan maksud ini dalam suatu perjanjian yang mengikat. Pada tahun 1997 di Jepang, 160 negara merumuskan persetujuan yang lebih kuat yang dikenal dengan Protokol Kyoto.

Perjanjian ini, yang belum diimplementasikan, menyerukan kepada 38 negara-negara industri yang memegang persentase paling besar dalam melepaskan gas-gas rumah kaca untuk memotong emisi mereka ke tingkat 5 persen di bawah emisi tahun 1990. Pengurangan ini harus dapat dicapai paling lambat tahun 2012. Pada mulanya, Amerika Serikat mengajukan diri untuk melakukan pemotongan yang lebih ambisius, menjanjikan pengurangan emisi hingga 7 persen di bawah tingkat 1990; Uni Eropa, yang menginginkan perjanjian yang lebih keras, berkomitmen 8 persen; dan Jepang 6 persen. Sisa 122 negara lainnya, sebagian besar negara berkembang, tidak diminta untuk berkomitmen dalam pengurangan emisi gas.

Akan tetapi, pada tahun 2001, Presiden Amerika Serikat yang baru terpilih, George W. Bush mengumumkan bahwa perjanjian untuk pengurangan karbondioksida tersebut menelan biaya yang sangat besar. Ia juga menyangkal dengan menyatakan bahwa negara-negara berkembang tidak dibebani dengan persyaratan pengurangan karbondioksida ini. Kyoto Protokol tidak berpengaruh apa-apa bila negara-negara industri yang bertanggung jawab menyumbang 55 persen dari emisi gas rumah kaca pada tahun 1990 tidak meratifikasinya. Persyaratan itu berhasil dipenuhi ketika tahun 2004, Presiden Rusia Vladimir Putin meratifikasi perjanjian ini, memberikan jalan untuk berlakunya perjanjian ini mulai 16 Februari 2005.

Banyak orang mengkritik Protokol Kyoto terlalu lemah. Bahkan jika perjanjian ini dilaksanakan segera, ia hanya akan sedikit mengurangi bertambahnya konsentrasi gas-gas rumah kaca di atmosfer. Suatu tindakan yang keras akan diperlukan nanti, terutama karena negara-negara berkembang yang dikecualikan dari perjanjian ini akan menghasilkan separuh dari emisi gas rumah kaca pada 2035. Penentang protokol ini memiliki posisi yang sangat kuat. Penolakan terhadap perjanjian ini di Amerika Serikat terutama dikemukakan oleh industri minyak, industri batubara dan perusahaan-perusahaan lainnya yang produksinya tergantung pada bahan bakar fosil. Para penentang ini mengklaim bahwa biaya ekonomi yang diperlukan untuk melaksanakan Protokol Kyoto dapat menjapai 300 milyar dollar AS, terutama disebabkan oleh biaya energi.

Sebaliknya pendukung Protokol Kyoto percaya bahwa biaya yang diperlukan hanya sebesar 88 milyar dollar AS dan dapat lebih kurang lagi serta dikembalikan dalam bentuk penghematan uang setelah mengubah ke peralatan, kendaraan, dan proses industri yang lebih effisien.

Pada suatu negara dengan kebijakan lingkungan yang ketat, ekonominya dapat terus tumbuh walaupun berbagai macam polusi telah dikurangi. Akan tetapi membatasi emisi karbondioksida terbukti sulit dilakukan. Sebagai contoh, Belanda, negara industrialis besar yang juga pelopor lingkungan, telah berhasil mengatasi berbagai macam polusi tetapi gagal untuk memenuhi targetnya dalam mengurangi produksi karbondioksida.
Setelah tahun 1997, para perwakilan dari penandatangan Protokol Kyoto bertemu secara reguler untuk menegoisasikan isu-isu yang belum terselesaikan seperti peraturan, metode dan pinalti yang wajib diterapkan pada setiap negara untuk memperlambat emisi gas rumah kaca. Para negoisator merancang sistem di mana suatu negara yang memiliki program pembersihan yang sukses dapat mengambil keuntungan dengan menjual hak polusi yang tidak digunakan ke negara lain. Sistem ini disebut perdagangan karbon. Sebagai contoh, negara yang sulit meningkatkan lagi hasilnya, seperti Belanda, dapat membeli kredit polusi di pasar, yang dapat diperoleh dengan biaya yang lebih rendah. Rusia, merupakan negara yang memperoleh keuntungan bila sistem ini diterapkan. Pada tahun 1990, ekonomi Rusia sangat payah dan emisi gas rumah kacanya sangat tinggi. Karena kemudian Rusia berhasil memotong emisinya lebih dari 5 persen di bawah tingkat 1990, ia berada dalam posisi untuk menjual kredit emisi ke negara-negara industri lainnya, terutama mereka yang ada di Uni Eropa.

Bangsa Indonesia juga mulai melakukan aksi nyata dalam menyikapi pemanasan global. Hal ini dibuktikan dengan adanya kegiatan melakukan penanaman melalui program Kampanye Indonesia Menanam, Kecil Menanam Dewasa Memanen, Rehabilitasi Hutan dan Lahan, Aksi Penanaman Serentak, Gerakan Perempuan Tanam dan Pelihara Pohon.

Seacara kelembagaan telah dilakukan pertemuan internasional di Provinsi Bali yaitu Conference Of Parties (COP) 13 United Nation Framework Convention On Climate Change (UNFCCC) pada tanggal 3 s/d 14 Desember 2007 yang dihadiri oleh 103 negara dengan 9000 peserta.

Penanganan pemanasan global bisa saja mulai dari diri sendiri. Penerapan pada diri sendiri melalui cinta lingkungan, misalnya kita membeli satu pot tanaman yang kita suka, lalu kita tanam di halaman rumah kita dan kita rawat dengan baik.

Memang terlihat sepele, tapi coba tanamkan dalam hati bahwa dengan satu pot tanaman yang benar- benar dirawat sendiri itu sudah menyumbangkan oksigen untuk dunia. Bayangkan apabila seluruh masyarakan dunia melakuan hal yang sama. Hal yang mungkin dianggap sepele tersebut bisa menjadi hal yang sangat besar manfaatnya dalam meminimalisir dampak dari global warming.

Keberadaan hutan sebagai bagian dari sebuah ekosistem yang besar memiliki arti dan peran penting dalam menyangga sistem kehidupan. Berbagai manfaat besar dapat diperoleh dari keberadaan hutan melalui fungsinya baik sebagai penyedia sumberdaya air bagi manusia dan lingkungan, kemampuan penyerapan karbon, pemasok oksigen di udara, penyedia jasa wisata dan mengatur iklim global

Langkah strategis dalam penanganan pemanasan global adalah mengurangi emisi karbon sebanyak 80% dibawah tingkat emisi 1990 pada tahun 2050 dengan mengimplementasikan market-based cap-and-trade system.
Hal ini akan segera dimulai dengan membuat suatu target pengurangan emisi tahunan sehingga bisa menyamai level emisi 1990 pada tahun 2020.

Cap and trade program akan menggunakan mekanisme pasar dalam mengurangi emisi dengan biaya yang efektif dan fleksibel.

Dengan program ini ambang batas emisi karbon nasional akan ditentukan. Emisi yang dikeluarkan di bagi sehingga tercapai angka ambang batas emisi yang diijinkan untuk tiap perusahaan. Karena batasan emisi ini, maka perusahaan yang mengeluarkan emisi akan mempunyai konsekuensi keuangan. Perusahaan bebas untuk memperjualbelikan sisa jatah emisinya. Perusahaan yang mampu mengurangi polusi dengan biaya rendah dapat menjual sisa jatah emisinya kepada perusahaan yang mengurangi emisi dengan biaya tinggi. Setiap tahun batas emisi akan terus dikurangi sesuai dengan target pengurangan emisi yang telah ditentukan.

Para pemimpin dunia harus menjadi pemimpin dalam perang melawan pemanasan global dan mengatakan bahwa AS akan kembali berinteraksi dalam berbagai forum seperti UNFCCC.

Semua negara harus berinisiatif aktif membentuk dan melanggengkan forum baru bagi para produsen gas rumah kaca terbesar yaitu dalam bentuk Global Energy Forum. Forum tersebut anggotanya terdiri dari negara-negara G8 ditambah Brazil, China, India, Meksiko dan Afrika Selatan (G8+5). Forum Energi Global ini akan bergabung dalam proses negosiasi yang lebih luas di PBB untuk membangun kerangka kerja pasca Protokol Kyoto.

Transfer teknologi negara maju kepada Negara berkembang untuk melawan perubahan iklim dalam kerangka Technology Transfer Program. Negara maju sebagai empunya teknologi harus mempunyai kepedulian khusus terhadap deforestasi hutan hujan tropis dan akan menawarkan insentif bagi pemeliharaan hutan yang berkelanjutan.

Kurangi pemanasan Global

Untuk mengurangi pemanasan global, mari kita kurangi CO2, baik dari kendaraan bermotor, listrik, ataupun industri. Saya membaca satu poster di salah satu industri elektronik besar di Bekasi, bahwa “setiap penghematan listrik 1 KWh = pengurangan CO2 sebesar 0,712 Kg”, berarti setiap orang bisa ikut aktif dalam mengurangi pemanasan global, paling tidak dengan menghemat pemakaian listrik setiap bulannya.
Dari manakah penghematan signifikan yang bisa kita dapat?

Menurut penelitian yang dilakukan oleh salah satu BUMN di gedung2 komersial, pemakaian mesin pendinginlah (AC, chiller) yang paling besar memakai daya listrik, sekitar 60-70% dari seluruh tagihan listriknya.
Dan tahukah teman2 Mesin pendingin menggunakan Freon (CFC, HFC, HCFC) sbg bahan pendinginnya, didalam freon mengandung Chlor & Fluor. Chlor adalah gas yang merusak lapisan ozon sedangkan Fluor adalah gas yang menimbulkan efek rumah kaca. Global warming potential (GWP) gas Fluor dari freon adalah 510, artinya freon dapat mengakibatkan pemanasan global 510 kali lebih berbahaya dibanding CO2, sedangkan Atsmosfir Life Time (ALT) dari freon adalah 15, artinya freon akan bertahan di atsmosfir selama 15 tahun sebelum akhirnya terurai.

http://korananakindonesia.wordpress.com/2009/11/21/penanganan-pemanasan-global/